open-recruitment-persma-universitas-asahan

Seleksi Mandiri, UPN Syaratkan 10 Ribu Subscriber Youtube Bagi Pendaftar

Dibaca 0 kali
Jangan lupa tekan tombol laik en share ya gaes. SHARE:

Seleksi Mandiri, UPN Syaratkan 10 Ribu Subscriber Bagi Calon Pendaftar
Persma Universitas Asahan - Baru-baru ini jagat sosial media dihebohkan dengan isu penerimaan mahasiswa baru di sebuah Perguruan Tinggi di Indonesia. Kehebohan itu berasal dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ).

Melalui pengumuman Seleksi Mandiri UPNVJ tahun ajaran 2019, disebutkan salah satu syarat bagi pendaftar yang juga kreator di Youtube. UPNVJ mensyaratkan minimal 10 ribu subscriber untuk mendaftar di jalur prestasi.

Praktis hal ini menjadi viral hingga memicu pro dan kontra di kalangan netizen. Dikutip dari Harian Indo, meskipun viral, Rektor UPNVJ Erna Hernawati justru mengaku tidak tahu menahu bahwa persyaratan khusus tersebut memicu keramaian di jagad maya.

“Belum tahu saya, soal itu (ramai di internet -red). Di Instagram apa? Coba nanti kasih linknya ke saya,” kata Erna pada Kamis (13/06/2019) yang lalu.

Namun ia membenarkan adanya persyaratan bagi Youtuber dengan minimal 10 ribu subscriber tersebut berasal dari pihak rektorat kampus.

“Itu, kan, sudah SK rektor. Kami baru memulainya tahun ini. Segala sesuatu sudah diputuskan rektor, tapi untuk teknis bisa ke ketua panitia,” lanjutnya.

Erna berargumen bahwa persyaratan tersebut merupakan upaya UPNVJ dalam menyambut revolusi industri 4.0 yang kini sedang marak. Meski demikian, sejumlah pihak merasa skeptis dengan kebijakan UPNVJ tersebut.

Masih dari Harian Indo, Najeela Shihab selaku Pendiri Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) menganggap tidak menemukan hubungan yang jelas antara persyaratan 10 ribu susbscriber dengan visi kampus UPNVJ.

“Saya belum melihat kaitan langsung. Tapi mungkin ada beberapa paradigma atau rencana jangka panjang berkait kurikulum UPNVJ yang belum disampaikan dan menjadi dasar kebijakan ini,” kata Najeela.

Komentar lain muncul dari Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji. Ia menganggap bahwa kebijakan tersebut masih rancu dan rawan terjadi transaksi kuota mahasiswa. Selain itu, ia menilai tidak semua Youtuber memiliki konten yang positif.

“Perlu diperjelas soal kontennya. Harus yang mendidik dan bernilai positif,” tegas Ubaid.
Baca Juga