open-recruitment-persma-universitas-asahan

Viral! Foto Pemuda Bertato Peta Indonesia di Demo Anti Rasis AS

Dibaca 0 kali
Jangan lupa tekan tombol laik en share ya gaes. SHARE:

Persma Grahita - Masih ingat insiden penangkapan berujung kematian yang terjadi di Minneapolis, Amerika Serikat beberapa waktu lalu?

Insiden itu diketahui bermula pada 25 Mei 2020 setelah pekerja toko kelontong menelepon 911 atas dugaan penggunaan uang palsu oleh seorang pembeli. Tak lama kemudian, George Floyd seorang pria berkulit hitam disergap oleh beberapa orang polisi setempat tepat di depan toko kelontong tersebut.

Aksi penyergapan itu diwarnai pemeriksaan hingga intimidasi. Derek Chauvin, seorang polisi yang ikut dalam penyergapan, mencekik George Floyd dengan menggunakan kaki. Pria hitam berusia 46 tahun itu pun lumpuh, tidak bergerak banyak. Dalam keadaan tertindih, ia berteriak memanggil-manggil "tolong... tolong aku... mama... tolong aku (-red)".

Derek Chauvin saat menindih Floyd
Tak sampai di situ, beberapa polisi tersebut terus melalukan pemeriksaan dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan. Sementara George Floyd terus-menerus merintih minta tolong. Beberapa warga di lokasi turut mendokumentasikan insiden tersebut. Tak sedikit yang meminta Derek Chauvin untuk melepaskan kakinya dari leher George Floyd.

Hingga klimaksnya, masih dalam keadaan leher tertindih, George Floyd berkata lemas, "tolong... aku tidak bisa bernafas (-red)", lalu berhenti bicara dan tubuhnya diam, tak sadarkan diri. George Floyd dikabarkan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.

Rekaman video-video jurnalisme warga sontak tersebar luas di dunia maya.  Kecaman publik tak dapat dielakkan, dunia pun mengutuk tidakan represif aparat hingga berujung pada kematian warga negara tersebut.

Walhasil, pada Jumat (29/05/2020), Derek Chauvin dipecat dari kepolisian. Ia juga dijerat dengan pasal berlapis. Pasal pembunuhan tingkat tiga, pembunuhan tingkat dua, dan pembunuhan tidak berencana tingkat dua. Dalam sistem hukum AS, ia terancam hukuman penjara selama 40 tahun.

Tak sampai di situ, ketiga polisi yang turut dalam penyergapan Floyd yakni Thomas Lane, Tou Thao, dan J Alexander Kueng turut dijerat melakukan persekongkolan.


Demonstrasi Hingga Kerusuhan
Bukan rahasia lagi, isu rasial acapkali menjadi pemicu ketegangan di Amerika Serikat. Kematian George Floyd memicu kembali ketegangan dan aksi-aksi demonstrasi. Tercatat, hingga Senin (1/6/2020) aksi demonstrasi terjadi setidaknya di 350 kota di AS.

Ribuan massa mayoritas berkulit hitam turun ke jalan. Menyuarakan gerakan anti rasis. Beberapa di antara pendemo menuliskan di kertas dan tembok-tembok "I Can't Breathe" yang berarti "Aku Tidak Bisa Bernafas". Persis kalimat terakhir yang keluar dari mulut George Floyd.

Massa begitu membludak tak karuan, kericuhan tak bisa dihindari, penjarahan terjadi dimana-mana. Akibatnya, Pemerintah AS menerjunkan Pasukan Khusus Garda Nasional AS untuk meredam kerusuhan. Beberapa aparat ada yang melakukan kekerasan terhadap pendemo, beberapa penegak hukum lainnya terlihat ikut bergabung dalam gerakan massa.

Presiden Donald Trump meminta Para Gubernur mengambil langkah pendekatan keras terhadap massa aksi unjuk rasa. Di media sosial, Trump juga mengancam akan mengerahkan pasukan militer untuk meredam kerusuhan. Namun ancaman itu malah menuai ejekan dan cibiran dari netizen.


Pria Bertato Peta Indonesia
Dokumentasi kerusuhan tersebar di mana-mana. Televisi, koran, dan media sosial diisi oleh foto dan gambar-gambar aksi demonstrasi anti rasis  AS.

Ada satu yang viral, yaitu foto pria bertopi dan berkaos cream sedang melancarkan hantaman ke arah kaca bangunan Bank Wells Fargo Philadelphia, Pennsylvania. Bukan aksi anarkisnya yang menjadi sorotan utama, namun tato bergambar peta Indonesia di tangan kanannya.

Belakangan diketahui, foto tersebut diambil dan diunggah pertama kali oleh Tom Kelly IV, Jurnalis asal Philadelphia.

Seperti dikutip dari suara.com, dalam unggahannya, Tom Kelly menuliskan keterangan aksi seorang demonstran yang mencoba memecahkan jendela kaca Bank Wells Fargo. Tom juga menyebut demonstran itu tidak berhasil memecahkan jendela kaca.

"Seorang pria mengambil benda dan melemparkannya ke jendela kaca bank Wells Fargo, tetapi benda itu tidak menembus kaca," tulis Tom pada Senin (31/5/2020).
Unggahan Tom Kelly IV

Setelah viral, pemuda dalam foto tersebut muncul dan membuat pengakuan. Ialah Rainey Arthur Backues, seorang pria yang mengaku kelahiran Indonesia dan sekarang berkewarganegaraan Amerika Serikat.

Backues dalam pernyataannya mengungkapkan ia tak bermaksud ikut dalam aksi kerusuhan. Namun terpancing emosi sehingga turut melakukan penjarahan. Ia pun segera meminta maaf kepada Warga Negara Indonesia yang tinggal di Philadelphia.

"Anda mungkin mengenali saya dari beberapa foto yang beredar di media sosial dalam beberapa jam terakhir. Jika Anda mengenal saya secara pribadi, Anda akan tahu bahwa apa yang terlihat di sana sangat berbeda dengan diri saya," unggahan Backues pada Minggu (1/6/2020). (PM01)
Baca Juga